Naskah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, merupakan salah satu warisan sejarah terpenting dari Kerajaan Majapahit. Naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan administratif, tetapi juga sebagai memori kolektif yang merekam kejayaan, kepemimpinan, dan sistem pemerintahan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Sebagai sumber primer dalam kajian sejarah Indonesia, Nagarakretagama memberikan gambaran komprehensif tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya di Nusantara pada abad ke-14.
Dalam konteks metodologi sejarah, naskah ini menjadi bukti autentik yang memerlukan pendekatan kritis untuk memahami konteks penulisannya. Peneliti harus mempertimbangkan bias pengarang, tujuan penulisan, dan kondisi politik saat itu. Nagarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin (puisi Jawa Kuno) yang menggunakan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, menunjukkan tingkat literasi dan apresiasi sastra yang tinggi di lingkungan kerajaan. Naskah ini ditemukan kembali pada tahun 1894 di Lombok, dan sejak itu menjadi fondasi penting dalam rekonstruksi sejarah Majapahit.
Kepemimpinan Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389, digambarkan secara detail dalam Nagarakretagama. Raja ini dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, mampu mempertahankan stabilitas politik dan memperluas pengaruh Majapahit hingga mencakup sebagian besar wilayah Nusantara. Di bawah pemerintahannya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya, dengan sistem administrasi yang terstruktur dan hubungan diplomatik yang kuat dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Hayam Wuruk juga mendukung perkembangan seni, sastra, dan arsitektur, seperti yang terlihat dari candi-candi dan prasasti yang masih bertahan hingga kini.
Selain Nagarakretagama, prasasti Mulawarman dari Kerajaan Kutai memberikan kontras menarik dalam memori sejarah Nusantara. Prasasti ini, yang berasal dari abad ke-4 Masehi, merupakan salah satu bukti tertulis tertua di Indonesia dan mencatat kedermawanan Raja Mulawarman. Perbandingan antara prasasti Mulawarman dan Nagarakretagama menunjukkan evolusi sistem pencatatan sejarah, dari prasasti batu yang singkat hingga naskah sastra yang kompleks. Keduanya menekankan pentingnya kepemimpinan yang adil dan religius dalam tradisi kerajaan Nusantara.
Dinasti yang memerintah Majapahit, dimulai dari Raden Wijaya hingga keturunan Hayam Wuruk, juga tercatat dalam Nagarakretagama. Naskah ini menyoroti peran penting para pendekar dan bangsawan dalam menjaga stabilitas kerajaan. Para pendekar, seperti Gajah Mada, tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin militer tetapi juga sebagai penasihat politik yang memengaruhi kebijakan kerajaan. Gajah Mada, dengan Sumpah Palapanya, menjadi simbol kesetiaan dan ambisi ekspansi Majapahit, meskipun catatan tentangnya dalam Nagarakretagama lebih terfokus pada periode Hayam Wuruk.
Warisan fisik dari Majapahit, seperti patung-patung Dwarapala (penjaga gerbang), memberikan dimensi visual pada memori sejarah yang tercatat dalam naskah. Patung-patung ini, sering ditemukan di situs candi, melambangkan kekuatan dan perlindungan spiritual kerajaan. Mereka berfungsi sebagai penjaga simbolis terhadap ancaman, mencerminkan kepercayaan masyarakat Majapahit pada kekuatan supernatural. Dalam konteks seni, patung Dwarapala menunjukkan keterampilan pahat yang tinggi dan pengaruh budaya Hindu-Buddha yang mendalam.
Lukisan gua, meskipun tidak secara langsung disebutkan dalam Nagarakretagama, merupakan bagian dari tradisi artistik Nusantara yang mungkin memengaruhi budaya visual Majapahit. Lukisan-lukisan ini, seperti yang ditemukan di gua-gua prasejarah Indonesia, mencatat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan masyarakat sebelum era kerajaan. Mereka berfungsi sebagai memori visual yang melengkapi catatan tertulis seperti Nagarakretagama, menunjukkan kontinuitas budaya dari masa prasejarah hingga kerajaan Hindu-Buddha.
Dalam studi memori sejarah, Nagarakretagama berperan sebagai alat untuk membentuk identitas nasional Indonesia modern. Naskah ini menginspirasi kebanggaan akan warisan budaya dan kepemimpinan masa lalu, yang tercermin dalam simbol-simbol negara seperti teks asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi 1945, meskipun berasal dari era yang berbeda, melanjutkan tradisi pencatatan sejarah penting yang dimulai dengan prasasti dan naskah seperti Nagarakretagama. Keduanya menekankan nilai-nilai kedaulatan dan kepemimpinan yang berakar pada sejarah Nusantara.
Metodologi sejarah dalam menganalisis Nagarakretagama melibatkan pendekatan interdisipliner, termasuk filologi, arkeologi, dan antropologi. Peneliti harus membandingkan naskah ini dengan sumber lain, seperti prasasti, artefak, dan catatan asing, untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang Majapahit. Tantangan utama termasuk interpretasi bahasa kuno dan bias penulis, tetapi dengan teknik modern, Nagarakretagama terus mengungkap wawasan baru tentang masa lalu Indonesia. Naskah ini juga menjadi dasar untuk pendidikan sejarah, mengajarkan generasi muda tentang akar budaya mereka.
Kesimpulannya, Naskah Nagarakretagama adalah lebih dari sekadar dokumen sejarah; ia adalah memori hidup yang menghubungkan Indonesia modern dengan kejayaan Majapahit. Melalui kajian tentang kepemimpinan Hayam Wuruk, prasasti Mulawarman, dan warisan budaya seperti patung Dwarapala, kita dapat memahami bagaimana sejarah membentuk identitas bangsa. Nagarakretagama mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan mempelajari warisan tertulis, bukan hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai panduan untuk masa depan. Dalam era digital, naskah ini terus diadaptasi untuk audiens modern, memastikan bahwa memori sejarah tetap relevan dan dihargai.